<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=11638347&amp;blogName=Lontar+Script&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLACK&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http://lontarscript.blogspot.com/search&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http://lontarscript.blogspot.com/&amp;vt=-2906914123992454810" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>

Friday, March 17, 2006

"Sebagaimana Buih Di Atas Permukaan Laut
Yang Seketika Lenyap
Tanpa Bekas
Ketika Angin Bertiup
Hingga Ia Seolah-olah Tak Pernah Ada,
Begitu Jugalah Kehidupan Kita
Ketika Sang MautTelah Menari..."
~ Khalil Gibran ~

Thursday, February 02, 2006

Anak

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka dilahirkan melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu
Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki pikiran sendiri
Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh mereka, tapi bukan jiwa mereka
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi...

(Khalil Gibran)

Cerita tentang Keledai Tua

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam semetara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun (ditutup - karena berbahaya); jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Dan ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur. Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian.Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya. Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu. Sementara tetangga-2 si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri ! Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari 'sumur' (kesedihan, masalah, dsb) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita ( pikiran, dan hati kita) dan melangkah naik dari 'sumur' dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan. Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari 'sumur' yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah ! Ingatlah aturan sederhana tentang Kebahagiaan : 1. Bebaskan dirimu dari kebencian 2. Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan 3. Hiduplah sederhana 4. Berilah lebih banyak 5. Berharaplah lebih sedikit 6. Tersenyumlah 7. Miliki teman yang bisa membuat engkau tersenyum

Saturday, November 05, 2005

Adab pergaulan dengan teman

Mutiara kalam Al-Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad
Budayakanlah dalam dirimu sifat selalu menahan diri dan suka memberi maaf atas segala kekhilafan teman-temanmu. Jangan sekali-kali menunjukkan sikap kasar dan kaku, sebab yang demikian itu termasuk sifat-sifat manusia-manusia tiran yang sombong. Jangan pula kamu mengecam kepada seseorang diantara mereka yang melanggar hak pribadimu atau kurang memperhatikannya. Kecuali apabila ia memang seorang yang benar-benar tulus dalam persahabatannya denganmu dan telah teruji kesetiaannya.
Akan tetapi apabila pelanggaran tersebut menyangkut hak Allah atau hak-hak hamba-Nya, maka dalam hal ini jangan begitu saja memaafkan mereka. Hanya saja tetap diperlukan pertimbangan berkaitan dengan keadaan mereka dalam hal kuat atau lemahnya keyakinan keberagamaan mereka. Maka hendaknya kamu bersikap lebih lunak terhadap para pemula diantara mereka yang masih lemah agamanya, dibandingkan dengan sikapmu berhadapan dengan mereka yang sudah kuat. Akan tetapi bagaimanapun juga sikap lemah lembut merupakan hal yang secara mutlak lebih banyak mengandung kebaikan, maka hendaknya kamu selalu lebih mengutamakannya dalam kamu bersikap.
Bergaullah bersama teman-temanmu dengan cara sebaik-baiknya. Lupakan saja kebanyakan diantara kesalahan-kesalahan mereka, khususnya kesalahan tertentu yang tidak akan terlepas darinya kecuali orang-orang khusus diantara hamba-hamba Allah yang shaleh. Jadikanlah bincang-bincangmu bersama mereka itu selalu tentang hal-hal yang yang mendatangkan manfaat bagi mereka, yang mampu meluruskan agama mereka dan memenuhi hajat mereka dalam kehidupan dunia dan akherat mereka. Jangan berbincang dengan mereka dalam hal-hal selain itu, kecuali pada saat-saat tertentu dengan niat hanya sekedar menghibur hati, sepanjang memang diperlukan.
Dan seandainya ada orang yang menyakiti hatimu, dengan ucapan ataupun perbuatan, memaki-makimu, menyebut tentangmu dengan sesuatu yang buruk di hadapan khalayak, maka janganlah membalasnya dengan perlakuan yang serupa. Hendaknya kamu memaafkannya dan melepaskannya dari dosa kesalahannya itu, tanpa menyisakan sedikitpun rasa dendam atau permusuhan terhadapnya. Seperti itulah akhlak yang layak disandang orang-orang shiddiqqin. Atau jika kamu tidak mampu berbuat demikian, maka serahkan saja urusannya kepada Allah dan cukuplah Allah sebagai pembelamu terhadapnya.
[Wasiat-Wasiat Habib Abdullah Al-Haddad, Al-Allamah Al-Habib Abdullah Al-Haddad, cetakan I, 2000, penerbit Kharisma, Bandung]

Wednesday, July 06, 2005

Airmata Mutiara

Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek. "Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu."

Si ibu terdia, sejenak, "Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.

Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

Friday, June 10, 2005

Dalam malam, kita justru dapat melihat indahnya bintang

1. Pelajaran Penting ke-1

Pada bulan ke-2 diawal kuliah saya, seorang Profesor
memberikan quiz mendadak pada kami. Karena kebetulan cukup menyimak
semua kuliah-kuliahnya, saya cukup cepat menyelesaikan soal-soal quiz,
sampai pada soal yang terakhir. Isi Soal terakhir ini adalah : Siapa nama depan
wanita yang menjadi petugas pembersih sekolah ?. Saya yakin soal ini
cuma "bercanda". Saya sering melihat perempuan ini. Tinggi,berambut gelap dan
berusia sekitar 50-an, tapi bagaimana saya tahu nama depannya... ? Saya
kumpulkan saja kertas ujian saya, tentu saja dengan jawaban soal terakhir kosong. Sebelum
kelas usai, seorang rekan bertanya pada Profesor itu, mengenai soal terakhir
akan "dihitung" atau tidak. "Tentu Saja Dihitung !!" kata si Profesor. "Pada
perjalanan karirmu, kamu akan ketemu banyak orang. Semuanya penting!.
Semua harus kamu perhatikan dan pelihara, walaupun itu cuma dengan
sepotong senyuman,atau sekilas "hallo"! Saya selalu ingat pelajaran itu. Saya
kemudian tahu, bahwa nama depan ibu pembersih ekolah adalah "Dorothy".



2. Pelajaran Penting ke-2 Penumpang yang Kehujanan

Malam itu, pukul setengah dua belas malam. Seorang wanita negro rapi
yang sudah berumur, sedang berdiri di tepi jalan tol Alabama. Ia nampak mencoba
bertahan dalam hujan yang sangat deras, yang hampir seperti badai. Mobilnya
kelihatannya lagi rusak, dan perempuan ini sangat ingin numpang mobil. Dalam
keadaan basah kuyup, ia mencoba menghentikan setiap mobil yang lewat.
Mobil berikutnya dikendarai oleh seorang pemuda bule, dia berhenti untuk menolong ibu
ini. Kelihatannya si bule ini tidak paham akan konflik etnis tahun 1960-an,yaitu
pada saat itu. Pemuda ini akhirnya membawa si ibu negro selamat hingga suatu tempat, untuk mendapatkan pertolongan, lalu mencarikan si ibu ini taksi. Walaupun terlihat sangat tergesa-gesa, si ibu tadi bertanya tentang alamat si pemuda itu, menulisnya, lalu mengucapkan terima kasih pada si pemuda. 7 hari berlalu, dan tiba-tiba pintu rumah pemuda bule ini diketuk Seseorang. Kejutan baginya, karena yang datang ternyata kiriman sebuah televisi set besar berwarna (1960-an !) khusus dikirim kerumahnya.Terselip surat kecil tertempel di televisi,
yang isinya adalah : " Terima kasih nak, karena membantuku di jalan Tol malam itu. Hujan
tidak hanya membasahi bajuku, tetapi juga jiwaku.Untung saja anda datang dan menolong saya. Karena pertolongan anda, saya masih sempat untuk hadir disisi suamiku yang sedang sekarat... hingga wafatnya. Tuhan memberkati anda,karena membantu saya dantidak mementingkan dirimu pada saat itu" Tertanda
Ny.Nat King Cole.
Catatan :
Nat King Cole, adalah penyanyi negro tenar thn.
60-an di USA


3. Pelajaran penting ke-3

Selalulah perhatikan dan ingat, pada semua yang anda layani. Di zaman eskrim khusus (ice cream sundae) masih murah, seorang anak laki-laki umur 10-an tahun masuk ke Coffee Shop Hotel, dan duduk di meja. Seorang pelayan wanita menghampiri, dan memberikan air putih dihadapannya. Anak ini kemudian bertanya "Berapa ya,... harga satu ice cream sundae?" katanya. "50 sen..." balas si pelayan. Si anak kemudian mengeluarkan isi sakunya dan menghitung dan mempelajari koin-koin di kantongnya.... "Wah... Kalau ice cream yang biasa
saja berapa?" katanya lagi. Tetapi kali ini orang-orang yang duduk di meja-meja lain sudah mulai banyak... dan pelayan ini mulai tidak sabar. "35 sen" kata si pelayan sambil uring-uringan.
Anak ini mulai menghitungi dan mempelajari lagi koin-koin yang tadi dikantongnya. "Bu... saya pesen yang ice cream biasa saja ya..." ujarnya. Sang pelayan kemudian membawa ice cream tersebut, meletakkan kertas kuitansi di atas meja dan terus melengos berjalan. Si anak ini kemudian makan ice-cream, bayar di kasir, dan pergi. Ketika si Pelayan wanita ini kembali untuk membersihkan meja si anak kecil tadi, dia mulai menangis terharu. Rapi terersusun disamping piring kecilnya yang kosong, ada 2 buah koin 10-sen dan 5 buah koin 1-sen. Anda bisa lihat... anak kecil ini tidak bisa pesan Ice-cream Sundae, karena tidak memiliki cukup untuk memberi sang pelayan uang tip yang "layak" ......


4. Pelajaran penting ke-4 - Penghalang di Jalan

Kita Zaman dahulu kala, tersebutlah seorang Raja, yang menempatkan sebuah batu besar di tengah-tengah jalan. Raja tersebut kemudian bersembunyi, untuk melihat apakah ada yang mau menyingkirkan batu itu dari jalan. Beberapa pedagang terkaya yang menjadi rekanan raja tiba ditempat, untuk berjalan melingkari batu besar tersebut. Banyak juga yang datang, kemudian memaki-maki sang Raja, karena tidak membersihkan jalan dari rintangan.Tetapi tidak ada satupun yang mau melancarkan jalan dengan menyingkirkan batu itu. Kemudian datanglah seorang petani, yang menggendong banyak sekali sayur mayur. Ketika semakin dekat, petani ini kemudian meletakkan dahulu bebannya,dan mencoba memindahkan batu itu kepinggir jalan. Setelah banyak mendorong dan mendorong, akhirnya ia berhasil menyingkirkan
batu besar itu. Ketika si petani ingin mengangkat kembali sayurnya,ternyata ditempat batu tadi ada kantung yang berisi banyak uang emas dan surat Raja. Surat yang mengatakan bahwa emas ini hanya untuk orang yang mau menyingkirkan batu tersebut dari jalan. Petani ini kemudian
belajar, satu pelajaran yang kita tidak pernah bisa mengerti. Bahwa pada dalam setiap rintangan,tersembunyi kesempatan yang bisa dipakai untuk memperbaiki hidup kita.

5. Pelajaran penting ke-5 - Memberi, ketika dibutuhkan.
Waktu itu, ketika saya masih seorang sukarelawan yang bekerja di sebuah rumah sakit, saya berkenalan dengan seorang gadis kecil yang bernama Liz, seorang penderita satu penyakit serius yang sangat jarang. Kesempatan sembuh, hanya ada pada adiknya, seorang pria kecil yang berumur 5 tahun, yang secara mujizat sembuh dari penyakit yang sama. Anak ini memiliki antibodi yang diperlukan untuk melawan penyakit itu.Dokter kemudian mencoba menerangkan situasi lengkap medikal tersebut ke anak kecil ini, dan bertanya apakah ia siap memberikan darahnya kepada kakak perempuannya. Saya melihat si kecil itu ragu-ragu sebentar, sebelum
mengambil nafas panjang dan berkata "Baiklah... Saya akan melakukan hal tersebut.... asalkan itu bisa menyelamatkan kakakku". Mengikuti proses tranfusi darah, si kecil ini berbaring di tempat tidur,disamping kakaknya. Wajah sang kakak mulai memerah, tetapi Wajah si kecil mulai pucat dan senyumnya menghilang. Si kecil melihat ke dokter itu, dan bertanya dalam
suara yang bergetar...katanya "Apakah saya akan langsung mati dokter... ?" Rupanya si kecil sedikit salah pengertian. Ia merasa, bahwa ia harus menyerahkan semua darahnya untuk
menyelamatkan jiwa kakaknya. Lihatlah...bukankah pengertian dan sikap adalah segalanya....

Belajar dari Terry Vo

Namanya Terry Vo. Usianya masih 10 tahun dan perawakannya kurus. Ia tinggal di pinggiran kota Perth. Seperti anak kecil lainnya, ia suka bermain, loncat-loncat, kejar-kejaran dan seolah-olah tidak ada beban di dalam hidupnya. Hari itu hari sabtu, hari kedua paskah (easter) setelah hari libur "Good Friday". Tidak ada yang istimewa hari itu. Ia memilih menghabiskan waktunya bermain basket dibelakang rumahnya. Orang Australi memang biasa di belakang rumahnya ditaruh ring basket di atas garasi atau tepatnya di temboknya. Seperti impian semua orang agar bisa seperti mike (Michael Jordan) atau "like mike" (iklan Gatorade populer era 90an), ia belajar slam dunk. Hari itu juga, ia belajar slam dunk. Tapi, nasib berkata lain. Ketika ia slam dunk apa yang terjadi?

Tembok yang terbuat dari batu bata sangat berat itu hancur, roboh, runtuh menenggelamkan tubuhnya. Batu bata di Indonesia sama di Australi berbeda. Batu bata di Australi sangat tebal dan berat. Menenggelamkan tubuhnya? Iya benar...

Dan itu menyebabkan tangannya langsung putus tus tus atau englishnya, cut off straight away. Kakinya juga begitu. Bahkan dia bilang untung saja tidak mengenai kepalanya, kalau tidak..... kepalanya bisa juga putus. Ketika kejadian itu, ambulan langsung datang. Ia masih di dalam reruntuhan itu tanpa tangan dan kakinya. Tangan dan kakinya yang terputus dimasukkan ke dalam ember dan ditaruh es.

Ketika dalam evakuasi, ia sangat tenang sekali. Bahkan dikatakan oleh salah seorang dokter "I've never met anyone quite like Terry Vo. First there's the sparkle in his eyes, the smile, then his courage, his calmness and his spirit". Pada saat itu, ayahnya bertanya kepada dia di reruntuhan apakah dia baik-baik saja. Ia jawab "I'm okay. I'm still alive, I'm okay" dengan sangat tenang.

Yang luar biasa lagi ketika ambulans datang, ia ditanya masih di dalam reruntuhan dengan sebuah pertanyaan "how old are you?"... Orang yang tidak tenang dan pesimis dia akan menjawab "I'm 10". Namun apa yang dijawab Terry Vo?

"I'm 10 and I've got 90 to go."... Bahasa Indonesianya, "Saya berumur 10 tahun dan Saya masih punya 90 tahun lagi".. Ini adalah kata-kata yang selalu Saya ingat ketika dia diwawancarai televisi.

Rupanya, rasa optimis, berani, tenang, berdampak pula kepada keberanian tim dokter untuk me re-attach tangannya. Akhirnya, tangannya berhasil disambung setelah benar-benar putus dari tubuhnya. Kakinya tidak bisa diselamatkan dan sekarang Terry Vo udah belajar menggerakkan jarinya :)

Pesan ku buat Terry Vo, "Good on you, matey!".. I can see you through your eyes on TV your calmness, brave, and not forgetting your sparkling little boy smile. Get well soon and becareful when you play basketball next time..." :)

Entahlah, apa dia masih bisa main basket dengan hilangnya kaki kirinya. Yang jelas, ia masih punya optimisme untuk hidup dan itu setidaknya membuat kita -terutama Saya- belajar banyak sama dia...

Mengulang kata-kata dia, Saya pun berucap "I'm 27 and I've got 90 to go..."

Masih banyak yang bisa dilakukan di hidup ini selain mengeluh, menuduh, mengaduh dan uh-uh yg lain.. And today, I learn something from Terry Vo.. A brave little boy yang penuh dengan optimisme :)

Sumber bahan: Siaran TV 60 minutes dan theage.com

Monday, March 28, 2005

A Psalm of Life

by Henry Wadsworth Longfellow

'Life that shall send A challenge to its end, And when it comes, say, 'Welcome, friend.''

WHAT THE HEART OF THE YOUNG MAN SAID TO THE PSALMIST

Tell me not, in mournful numbers,
Life is but an empty dream!
For the soul is dead that slumbers,
And things are not what they seem.

Life is real—life is earnest—
And the grave is not its goal:
Dust thou art, to dust returnest,
Was not spoken of the soul.

Not enjoyment, and not sorrow,
Is our destin'd end or way;
But to act, that each to-morrow
Find us farther than to-day.

Art is long, and time is fleeting,
And our hearts, though stout and brave,
Still, like muffled drums, are beating
Funeral marches to the grave.

In the world's broad field of battle,
In the bivouac of Life,
Be not like dumb, driven cattle!
Be a hero in the strife!

Trust no Future, howe'er pleasant!
Let the dead Past bury its dead!
Act—act in the glorious Present!
Heart within, and God o'er head!

Lives of great men all remind us
We can make our lives sublime,
And, departing, leave behind us
Footsteps on the sands of time.

Footsteps, that, perhaps another,
Sailing o'er life's solemn main,
A forlorn and shipwreck'd brother,
Seeing, shall take heart again.

Let us then be up and doing,
With a heart for any fate;
Still achieving, still pursuing,
Learn to labor and to wait.

Friday, March 25, 2005

Jadilah Bumiku

Kuminta engkau dik
untuk menjadi bumiku
tempatku menjejakan kaki
melangkahi hidup ini

Jadilah engkau bumiku
tempatku bersandar dan membaringkan diri
meneteskan peluh dan airmata
melalui waktu

Kulamar engkau sayang
menjadi bumiku
tempat kusebar harapan
benih masa depan

Sudilah engkau menjadi bumiku
tempat merabuknya guguran daun kering
dan tumbuhnya tunas-tunas baru

Jadilah engkau bumiku
ladangku tempat mencari pahala
untuk hidup
yang tinggal sementara

Aku ingin menjadi langitmu
awan yang mengitarimu
menebar hujan dan menyirami tanaman jiwa
diladang kita

Aku ingin menjdi langitmu
melindungimu dari panas dan bayu
tempatmu berteduh dan berlindung
dalam dekap mega awanku

Jadilah bumiku dik, seumur hidupku......



Kuntoro Boga Andri

Saga, 23.01
1 Syawal 1423 H
5 Desember 2002